STIPAR ENDE GELAR DISKUSI ILMIAHSPIRITUALITAS DAN KESEHATAN MENTAL MAHASISWA MENUJU PRIBADI HOLISTIK DAN BERDAYA
STIPAR ENDE GELAR DISKUSI ILMIAH

ENDE – Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (STIPAR) Ende dengan penuh syukur menyelenggarakan Diskusi Ilmiah bertema “Spiritualitas dan Kesehatan Mental Mahasiswa Menuju Pribadi yang Holistik dan Berdaya” pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan ini dihadiri banyak mahasiswa yang tampak tertib dan antusias mengikuti acara dengan mengenakan seragam kuning.

Diskusi ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Ibu Mathilde Mita, S.Pd., M.Si, dosen yang membawakan materi tentang kesehatan mental, dan RD. Yohanes Fransiskus Siku Jata, Lic.Th, yang menyampaikan materi tentang spiritualitas sebagai fondasi pelayanan katekis dan konselor.

Dalam pemaparannya, Ibu Mathilde menyampaikan bahwa kesehatan mental tidak hanya berarti terbebas dari gangguan atau penyakit psikologis. Menurut beliau, seseorang memiliki kesehatan mental yang baik apabila mampu mengenali dan mengembangkan potensi dirinya, menghadapi tekanan hidup, mengelola stres secara sehat, bekerja secara produktif, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, kesehatan mental perlu dipahami secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, emosional, psikologis, sosial, dan spiritual.

Beliau juga menjelaskan lima tahap respons manusia ketika menghadapi kehilangan atau tekanan, yakni penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tahapan tersebut tidak selalu dialami secara berurutan, sehingga setiap pribadi perlu diberi ruang, dukungan, dan pendampingan sesuai dengan kondisinya.

Selanjutnya, para peserta diajak memahami ciri kesehatan mental yang positif berdasarkan teori kesejahteraan psikologis (Psychological Well-Being) dari Carol D. Ryff. Teori ini memuat enam dimensi, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi atau kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan diri. Dalam penjelasan mengenai penerimaan diri, beliau mengingatkan bahwa seseorang perlu mengenal dirinya secara mendalam sebelum berusaha memahami orang lain.

Pada sesi berikutnya, RD. Yohanes Fransiskus Siku Jata menguraikan bahwa spiritualitas adalah semangat atau roh yang mengilhami kehidupan seseorang dari dalam dirinya. Spiritualitas membantu manusia menemukan makna, arah, dan tujuan hidup, serta membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri. Menurut Romo, spiritualitas yang baik memberikan daya tahan dan kekuatan batin untuk bertahan, bangkit, dan melanjutkan perjuangan demi sesuatu yang bernilai.

Romo juga menjelaskan bahwa tugas pastoral atau penggembalaan merupakan pelayanan untuk mendampingi, membimbing, dan memperhatikan seseorang dalam perjalanan hidupnya. Pelayanan pastoral tidak hanya menyentuh kehidupan rohani, tetapi juga memperhatikan manusia secara utuh, yakni dari segi spiritual, psikologis, sosial, dan kemanusiaan.

Bagi para calon katekis dan konselor, spiritualitas menjadi landasan penting dalam pelayanan. Seorang katekis dipanggil bukan hanya untuk menyampaikan ajaran iman, tetapi juga untuk memberikan kesaksian iman melalui perkataan, sikap, dan tindakan nyata. Sementara itu, seorang konselor membutuhkan spiritualitas untuk menumbuhkan empati, kesabaran, penghargaan terhadap martabat manusia, serta kemampuan mendengarkan dan memahami pergumulan orang yang didampingi.

Melalui diskusi ilmiah ini, mahasiswa STIPAR Ende diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat kehidupan rohani, sehingga bertumbuh menjadi pribadi yang utuh, berdaya, dan siap melayani sesama. Kegiatan ini juga menjadi wujud syukur dan terima kasih kepada para pemateri atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan.



Penulis : ALFIANUS RUBA



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)