Menggugat Monopoli Sekolah di Era AIPenulis : Florentina Ina Wai (Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende)
Menggugat Monopoli Sekolah di Era AI

Tiga Kampus di Flores Rilis dan Bedah Buku ‘Deschooling Society , Relevankah?"


Lebih dari setengah abad setelah Ivan Illich mengguncang dunia pendidikan dengan karya monumentalnya ‘Deschooling Society’ (1971), sebuah pertanyaan kritis kembali menggema di ruang-ruang akademik: Apakah gagasan ‘masyarakat tanpa sekolah’ masih relevan di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, dan obsesi terhadap ijazah hari ini?

 Pertanyaan reflektif tersebut akan menjadi pusat perhatian dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Ende, Nusa Tenggara Timur. Acara ini menjadi momentum bersejarah bagi kolaborasi intelektual tiga institusi pendidikan tinggi di Flores: Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Universitas Nusa Nipa Maumere, dan Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (STIPAR Ende).

Selain mengupas tuntas buku bunga rampai terbaru berjudul "Deschooling Society, Relevankah? Mengenang 55 Tahun Karya Deschooling Society Ivan Illich", acara ini juga ditandai dengan penandatanganan MoU Tripartit Tridarma Perguruan Tinggi, sebuah simbol komitmen bersama untuk meruntuhkan tembok menara gading dan menciptakan jejaring pembelajaran yang lebih luas. Hadir sebagai pemantik diskusi utama, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD.

Buku yang diterbitkan oleh PT Kanisius ini tidak hadir hanya sebagai teks filosofis yang berjarak dari realitas. Disunting oleh Dr. Marianus Mantovanny Tapung dan Dr. Yohanes Mariano Dangku, buku ini merupakan kumpulan 27 artikel dari berbagai disiplin ilmu mulai dari filsafat, teologi, pedagogi, arsitektur, teknik sipil, hingga kajian budaya dan musik.

"Buku ini bukan sekadar menerima atau menolak Illich secara sederhana. Buku ini mengajak kita memasuki percakapan yang lebih penting: bagaimana mempertahankan dimensi kemanusiaan pendidikan di tengah dunia yang makin dikendalikan oleh logika efisiensi, teknologi, dan pasar," tulis Dr. Jonas K.G.D. Gobang, Rektor Universitas Nusa Nipa, dalam sambutan tertulisnya yang dimuat dalam buku tersebut.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya mendialogkan pemikiran Illich dengan konteks kekinian dan kearifan lokal NTT. Pembaca tidak hanya diajak merenungkan konsep ‘Learning Webs’ (jejaring belajar) Illich, tetapi juga melihat implementasinya dalam berbagai ruang kehidupan yang tak terduga.

Di dalamnya, pembaca akan diajak menyelami refleksi teologis tentang Inkarnasi Logos sebagai kritik atas pendidikan yang mendinginkan relasi (Fransiskus Nala Kartijo Udu), hingga menggugat eksklusivitas pengetahuan rekayasa struktur tahan gempa yang terjebak di ‘menara gading’ akademisi (Dr. Sandy I. Yansiku).

Bahkan, budaya pop dan kearifan lokal pun ikut ‘dibedah’ melalui lensa Illich. Artikel tentang filosofi hidup Am Di’a Diang – Am Jari Ta’i dalam kebudayaan Manggarai, integrasi Green Architecture di SDK Maumere 2, hingga analisis tajam tentang bagaimana musik Rap Manggarai (MukaRakat & Rapublic Ruteng Clan) dan film Pesta Babi berfungsi sebagai ruang pedagogi alternatif dan perlawanan terhadap komodifikasi budaya.

Bagi para praktisi pendidikan, buku ini menawarkan ‘tamparan’ halus yang menyadarkan. Di tengah euforia Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam, para penulis dari Flores ini berani menyoroti bahaya ‘skolastifikasi digital’ dan fenomena ‘credential capital’, di mana ijazah dan predikat ‘Cum Laude’ telah berubah fungsi menjadi sekadar komoditas pasar, sementara mutu kompetensi dan makna belajar justru merosot (seperti diulas tajam oleh Dr. Yohannes Don Bosco Doho dan Petrus Redy Partus Jaya).

Seperti diungkapkan oleh Dr. Fransiskus Zaverius M. Deidhae, Ketua STIPAR Atma Reksa Ende, refleksi kritis dalam buku ini secara koinsidental berirama dengan semangat Kampus Merdeka dan Kampus Berdampak. Pendidikan sejati harus mampu meruntuhkan batas geografis dan psikologis antara institusi akademik dengan kehidupan masyarakat nyata.

Bagi para pendidik, mahasiswa, pembuat kebijakan, hingga orang tua yang cemas menghadapi masa depan pendidikan anak-anak Generasi Z, buku ini adalah sebuah undangan. Sebuah undangan untuk berhenti sekadar "menerapkan" kurikulum, dan mulai "menghidupi" pendidikan.

Sebagaimana pesan penutup dari para editor: "Lima puluh lima tahun setelah Illich menuliskan kritiknya, semoga kumpulan gagasan dari Ruteng, Ende, dan Maumere ini menjadi kontribusi kecil namun bermakna bagi upaya mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: proses memanusiakan manusia, di mana pun dan kapan pun proses itu berlangsung."

Buku "Deschooling Society, Relevankah?" kini telah hadir di toko-toko buku utama di seluruh Indonesia. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang pembebasan, bukan sekadar pabrik pencetak ijazah.

 

Informasi Buku:

• Judul: Deschooling Society, Relevankah? Mengenang 55 Tahun Karya Deschooling Society Ivan Illich

• Editor: Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S.Fil., M.Pd. & Dr. Yohanes Mariano Dangku, S.Fil., M.Pd.

• Penerbit: PT Kanisius, Yogyakarta

• Tebal: xviii + 678 hlm

• Kolaborator: Unika Santu Paulus Ruteng, Universitas Nusa Nipa Maumere, STIPAR Atma Reksa Ende.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)