Perkuat Literasi Lintas Budaya dan Moderasi BeragamaStipar Ende dan Kemenag Kabupaten Ende Resmi Bekerja Sama
Perkuat Literasi Lintas Budaya dan Moderasi Beragama

Sekolah Tinggi Pastoral (Stipar) Atma Reksa Ende dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ende resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam acara bertajuk “Kampus Moderasi: Merawat Harmoni Melalui Literasi Keagamaan Lintas Budaya”. Penandatanganan ini menandai komitmen kuat kedua belah pihak untuk mewujudkan pendidikan yang tidak hanya akademis, tetapi juga humanis dan religius.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Stipar Atma Reksa Ende, Dr. Fransiskus Z.M. Deidhae, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Ende, Nikolaus Payong, S.Ag, Ketua LP2M Stipar, Dr. Ignasius Suswakara, para dosen dan tenaga kependidikan serta utusan mahasiswa, Senin, 12 Oktober 2026, bertempat di ruang pertemuan dosen Stipar Ende.

Dr. Ignasius Suswakara, Ketua LP2M Stipar Ende, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar formalitas. Tujuannya adalah untuk memastikan kolaborasi yang dibangun dapat memberikan dampak nyata, baik secara lokal maupun internasional.

"Kita perlu bukti resmi supaya mempermudah kerja sama Stipar ke depan. Dengan adanya payung hukum ini, langkah-langkah strategis kita akan lebih terarah dan berdampak luas," ujar Dr. Ignasius.

Ketua Stipar Atma Reksa Ende, Dr. Fransiskus Z.M. Deidhae, menekankan bahwa sebagai Perguruan Tinggi, Stipar memiliki kewajiban moral untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia menyoroti pentingnya kematangan sosial bagi para pendidik.

"Mahasiswa dan pendidik adalah makhluk sosial yang harus mampu berada bersama yang lain. Lembaga ini berciri Katolik yang memiliki kewajiban menjaga semangat dan ciri khas Kristiani, namun di saat yang sama kita harus hadir dalam literasi keagamaan lintas budaya," tegas Dr. Fransiskus. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kemenag dan berharap kerja sama ini akan terus berlanjut di masa depan.

Sambutan mendalam disampaikan oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Ende, Nikolaus Payong, S.Ag. Ia memaknai penandatanganan ini tidak hanya sebagai prosedur administrasi, melainkan sebagai ruang yang dikehendaki Tuhan untuk mempertemukan berbagai pemikiran.

Kakan kemenag Kabupaten Ende yang adalah alumni Stipar Ende, mengajak hadirin merenungkan perbedaan filosofi Barat yang rasional ("saya pikir") dan Timur yang emosional ("saya rasa"). Ia mengingatkan bahwa berbicara tentang Tuhan dengan otak saja tidak akan bertemu, tetapi dengan hati, semua akan menuju satu simpul yang sama.

"Stipar perlu mendamaikan Barat dan Timur, otak dan hati. Selain belajar ilmu, kita juga harus belajar tentang pikiran Tuhan. Ini sesuai dengan spirit Atma Reksa," ungkapnya.

Menyentuh profesi para peserta yang mayoritas adalah calon pendidik, Nikolaus Payong menegaskan bahwa tidak ada profesi lebih mulia selain guru. "Guru adalah penghalau kegelapan dan pemberi cahaya. Kemampuan guru menyalakan lentera pada murid adalah indikator kesuksesan. Stipar adalah kendaraan untuk menghantar Anda menuju masa depan," katanya.

Terkait program konkret, ia menyebutkan bahwa salah satu wujud kerja sama adalah memungkinkan mahasiswa Stipar semester IX untuk "menyisipkan" kegiatan saat Musyawarah Pendidikan Guru Agama Katolik (MPGAK). Ia juga mendorong para alumni dan mahasiswa untuk membangun "Superteam", bukan bekerja sebagai "Superman" sendiri.

"Jadilah hebat seperti kakak-kakakmu. Yakinlah bahwa tamatan Stipar itu 'tidak asal-asalan'. Dulu kita mensarjanakan kamu, sekarang kita akan sama-sama berjuang mensejahterakan kamu," tutupnya penuh semangat.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah, menandai dimulainya babak baru kerja sama strategis antara Stipar Atma Reksa Ende dan Kemenag Kabupaten Ende

Penulis : (Anselmus DW Atasoge).



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)